Pemerintah menyusun peta jalan AI dan fintech untuk modernisasi keuangan digital

Gelombang modernisasi layanan publik kini menabrak pintu sektor finansial dengan cara yang jauh lebih teknis: lewat AI, Fintech, dan tata kelola data yang makin ketat. Di Indonesia, agenda ini tidak lagi sekadar wacana, melainkan diarahkan menjadi perangkat kebijakan yang mengikat—pemerintah menyiapkan peta jalan nasional agar adopsi teknologi berjalan aman, serasi, dan bernilai ekonomi. Di tengah euforia otomatisasi dan model analitik, ada pertanyaan praktis yang selalu mengikutinya: siapa bertanggung jawab jika algoritma keliru, bagaimana melindungi konsumen, dan bagaimana memastikan inovasi tidak hanya tumbuh di kota besar?

Di sisi lain, realitas di lapangan menunjukkan masyarakat sudah lebih dulu bergerak. Pembayaran berbasis QR dan dompet digital telah menjadi kebiasaan, bahkan untuk warung kecil. Perubahan ini “organik”, namun justru menuntut negara hadir sebagai pengarah: memperkuat keamanan, meningkatkan literasi, memastikan kedaulatan data, serta membuka ruang kolaborasi industri dan kampus. Cerita para pelaku usaha kecil—misalnya pemilik kedai kopi fiktif bernama Raka di Semarang—membantu kita melihat dampaknya secara nyata: dari pencatatan transaksi otomatis, akses pembiayaan lebih cepat, hingga risiko penipuan yang juga makin canggih.

  • Pemerintah menyiapkan peta jalan AI lintas sektor yang melibatkan puluhan kementerian/lembaga, dengan fokus awal pada etika dan keamanan.
  • Dokumen diarahkan menjadi Peraturan Presiden agar menjadi rujukan formal bagi adopsi AI di berbagai bidang, termasuk keuangan digital.
  • Agenda Fintech diposisikan sebagai mesin inovasi pembayaran, pembiayaan, dan produk baru seperti tokenisasi aset serta smart contract.
  • Program transformasi digital menuntut penguatan data center dalam negeri untuk kedaulatan data dan transfer data yang bertanggung jawab.
  • Tantangan utama: keamanan sistem pembayaran, literasi digital, dan kepercayaan publik agar ekonomi digital tumbuh berkelanjutan.

Pemerintah menyusun peta jalan AI untuk modernisasi keuangan digital yang terukur

Ketika Pemerintah menyatakan sedang menyusun peta jalan AI, yang dimaksud bukan sekadar dokumen visi. Ini adalah kerangka yang mengatur “cara” negara mengadopsi teknologi: prinsip, batasan, prioritas risiko, serta pembagian tugas lintas institusi. Dalam praktiknya, penyusunan berlangsung lebih lama dari target awal karena sifatnya lintas sektor. Mengapa harus serumit itu? Karena AI tidak hidup di satu ruang—ia menyentuh layanan publik, industri, pendidikan, kesehatan, sampai sistem pembayaran. Jika setiap sektor membuat aturan sendiri tanpa kompas bersama, hasilnya bisa tumpang tindih, atau lebih buruk: celah kepatuhan yang dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan digital.

Proses perumusan yang melibatkan puluhan kementerian/lembaga memperlihatkan perubahan pola kebijakan: dari pendekatan cepat menjadi pendekatan yang menekankan dampak. Di dalam forum pembahasan, masing-masing instansi mengirim beberapa perwakilan sehingga diskusi membengkak menjadi ratusan orang, ditambah masukan akademisi dan industri yang jumlahnya lebih besar lagi. Format seperti ini memang melelahkan, namun logis—AI di sektor keuangan tidak bisa dibicarakan tanpa bank sentral, otoritas jasa keuangan, kementerian teknis, penegak hukum, dan pengelola data. Pertanyaannya: apa yang diatur terlebih dahulu?

Di tahap awal, perdebatan biasanya terjadi pada “prioritas”. Ada sektor yang ingin mendorong produktivitas secepatnya, ada juga yang menuntut pagar pengaman lebih dulu. Pilihan untuk mendahulukan pedoman etika dan keamanan menjadi sinyal: negara ingin memastikan pemanfaatan AI tidak melahirkan diskriminasi (misalnya skor kredit yang menolak pelaku UMKM karena pola data historis), tidak menimbulkan kebocoran data, dan tidak memicu keputusan otomatis tanpa mekanisme keberatan. Bagi Raka, pemilik kedai kopi, pedoman ini berarti ketika ia mengajukan pinjaman modal lewat aplikasi, ia berhak tahu mengapa ditolak dan bagaimana memperbaikinya—bukan sekadar menerima “skor rendah” tanpa penjelasan.

Di jalur birokrasi, draf peta jalan diarahkan untuk menjadi Perpres agar menjadi pegangan formal lintas kementerian. Setelah disusun, naskah melewati tahap harmonisasi di lembaga hukum agar selaras dengan regulasi lain, dari perlindungan data hingga aturan sektor keuangan. Poin pentingnya: Perpres bukan akhir. Ia menjadi payung yang mendorong setiap kementerian menerbitkan aturan turunan sesuai karakter sektor masing-masing, sehingga tata kelola tidak berhenti di tingkat prinsip, melainkan hadir sebagai prosedur operasional yang bisa diaudit.

Langkah ini juga terkait potensi ekonomi. Proyeksi kontribusi AI pada 2030 mencapai ratusan miliar dolar AS, yang bila dikonversi ke rupiah bernilai ribuan triliun. Namun proyeksi hanya akan menjadi angka di slide jika implementasinya tidak ditopang oleh kepastian hukum. Investor butuh kejelasan, pengembang butuh rambu, konsumen butuh perlindungan. Di ruang inilah modernisasi keuangan digital menjadi urusan kebijakan publik, bukan semata tren teknologi.

Jaringan kolaborasi juga perlu tempat bertemu. Contohnya, inkubasi dan jejaring wirausaha di kota besar membantu mempercepat pengujian solusi pembayaran atau analitik risiko. Ekosistem semacam ini bisa dilihat melalui pusat jejaring entrepreneur di Jakarta yang mempertemukan startup, mentor, dan mitra korporasi. Ketika ruang-ruang kolaborasi tumbuh, Pemerintah punya kesempatan untuk menyerap masukan implementatif, bukan hanya teori. Insight akhirnya jelas: regulasi yang baik bukan yang paling cepat terbit, melainkan yang paling siap dipakai di lapangan.

AI dan fintech sebagai mesin inovasi: dari deteksi fraud hingga scoring kredit alternatif

Dalam percakapan tentang Fintech, masyarakat sering langsung membayangkan dompet digital atau paylater. Padahal, nilai strategisnya jauh lebih luas: Fintech adalah “jalur distribusi” bagi teknologi finansial, sementara AI menjadi “mesin keputusan” yang membuat layanan bisa lebih cepat, personal, dan efisien. Pemerintah menempatkan keduanya sebagai pendorong transformasi digital sektor keuangan—bukan hanya untuk kenyamanan transaksi, tetapi juga untuk memperluas akses layanan keuangan formal bagi kelompok yang sebelumnya kurang terjangkau perbankan.

Salah satu contoh yang paling mudah dipahami adalah deteksi fraud. Penipuan di sistem pembayaran semakin canggih: akun palsu, rekayasa sosial, hingga transaksi beruntun yang dirancang agar lolos dari batas manual. Model AI dapat membaca pola: jam transaksi yang tidak wajar, perubahan lokasi mendadak, frekuensi pembelian yang melonjak, atau keterkaitan dengan perangkat yang pernah dilaporkan berisiko. Dalam kasus Raka, sistem bisa menahan transaksi besar yang tiba-tiba muncul pada dini hari dari perangkat yang belum pernah dipakai. Namun, pagar pengaman ini harus seimbang—jangan sampai terlalu agresif hingga menghambat transaksi sah dan merusak kepercayaan pengguna.

Area kedua adalah analitik cerdas untuk layanan pelanggan dan operasional. Chatbot kini bisa lebih “mengerti” konteks, membantu pengguna memblokir akun, memahami biaya, atau menelusuri status pengajuan pinjaman. Di sisi internal, AI dapat mengotomasi rekonsiliasi pembayaran, mengurangi kesalahan input, dan mempercepat pelaporan. Ini yang disebut sebagai modernisasi: pekerjaan yang sebelumnya butuh tim besar dan waktu lama, dipangkas menjadi proses yang lebih ramping. Akan tetapi, organisasi perlu menyiapkan tata kelola audit model agar keputusan otomatis dapat ditelusuri.

Bagian yang paling menentukan inklusi adalah scoring kredit alternatif. Banyak pelaku usaha mikro tidak punya rekam jejak pinjaman formal atau laporan keuangan rapi. AI dapat memanfaatkan data transaksi digital, pola pembelian bahan baku, keteraturan pemasukan, bahkan stabilitas arus kas mingguan untuk memperkirakan kemampuan bayar. Dengan catatan: data harus dikumpulkan secara sah, transparan, dan dengan persetujuan. Jika tidak, “inklusi” berubah menjadi “ekstraksi data”. Di sini, peta jalan yang menekankan etika menjadi krusial.

Selain kredit, inovasi produk juga bergerak ke tokenisasi aset dan smart contract. Dalam praktiknya, tokenisasi dapat memungkinkan kepemilikan fraksional atas aset tertentu, sedangkan smart contract berpotensi mengurangi biaya administrasi untuk transaksi bersyarat. Namun implementasi di keuangan tidak bisa meniru dunia kripto secara mentah. Produk harus selaras dengan perlindungan konsumen, mitigasi pencucian uang, dan kejelasan tanggung jawab ketika terjadi sengketa. Karena itu, peta jalan teknologi baru—termasuk semikonduktor sebagai fondasi infrastruktur—dibicarakan bersamaan dengan peta jalan AI, agar ekosistemnya tidak timpang.

Untuk menjaga agar narasi ini tidak hanya teknis, penting melihat perubahan kebiasaan. Pembayaran QR telah menjangkau puluhan juta pengguna dan mayoritasnya berasal dari pelaku UMKM. Ini menunjukkan ekonomi digital bukan hanya produk kota besar. Warung, tukang cukur, dan pedagang pasar mengadopsi karena sederhana dan murah. Tantangannya: ketika basis pengguna makin luas, dampak serangan siber juga makin besar. Insight penutupnya: AI dan Fintech mampu mempercepat layanan, tetapi hanya akan bertahan jika keadilan keputusan dan keamanan transaksi menjadi standar, bukan bonus.

Di tengah percepatan itu, diskusi publik juga penting agar masyarakat memahami manfaat dan risikonya. Salah satu cara paling efektif adalah memperluas literasi melalui konten yang mudah dicerna dan studi kasus.

Keamanan, literasi, dan kepercayaan: fondasi modernisasi keuangan digital yang tidak bisa ditawar

Setiap gelombang transformasi digital membawa dua hal sekaligus: efisiensi dan kerentanan baru. Pada layanan keuangan, kerentanan itu terasa lebih serius karena menyangkut uang dan identitas. Karena itu, ketika pemerintah mendorong modernisasi keuangan digital, diskusi keamanan tidak boleh ditempatkan sebagai catatan kaki. Sistem pembayaran yang cepat tapi mudah dibobol hanya akan menciptakan trauma kolektif dan menghambat adopsi. Pada titik ini, peta jalan AI dan penguatan Fintech harus bertemu dengan agenda keamanan siber yang operasional, bukan sekadar slogan.

Ancaman paling umum datang dari rekayasa sosial. Pelaku tidak selalu meretas sistem; mereka “meretas manusia”: meminta OTP, mengarahkan korban ke tautan palsu, atau menyamar sebagai layanan pelanggan. AI bisa membantu mendeteksi pola pesan massal, domain berbahaya, dan anomali perilaku akun. Namun AI juga dipakai oleh penjahat untuk membuat pesan penipuan yang lebih meyakinkan, memalsukan suara, atau mengotomasi percobaan login. Inilah alasan mengapa tata kelola keamanan harus adaptif: pembaruan model, simulasi insiden, serta koordinasi lintas platform perlu menjadi rutinitas, bukan reaksi saat kasus viral.

Keamanan juga berarti ketahanan infrastruktur. Gangguan sistem pembayaran beberapa jam saja bisa melumpuhkan aktivitas pasar, logistik, dan layanan publik. Pemerintah mendorong penguatan pusat data agar data strategis—termasuk transaksi dan layanan publik—tersimpan di wilayah Indonesia untuk menjaga kedaulatan data. Dalam konteks ini, kedaulatan bukan berarti menutup diri dari dunia, melainkan memastikan transfer data lintas batas dilakukan secara bertanggung jawab, terdokumentasi, dan sesuai hukum. Bagi pelaku industri, kepastian ini membantu perencanaan arsitektur: apa yang wajib lokal, apa yang boleh lintas negara, dan bagaimana mekanisme auditnya.

Di sisi masyarakat, literasi digital menjadi penentu. Banyak pengguna baru menganggap aplikasi keuangan seperti aplikasi belanja biasa, padahal risiko dan konsekuensinya lebih tinggi. Literasi yang dimaksud bukan hanya “cara pakai”, melainkan pemahaman tentang izin data, tanda penipuan, dan langkah darurat ketika akun diambil alih. Raka, misalnya, bisa terbantu jika ada modul sederhana di aplikasi: bagaimana memverifikasi nomor resmi, kapan harus mengganti PIN, dan apa yang harus dilakukan saat menerima telepon mencurigakan. Ketika literasi meningkat, beban keamanan tidak seluruhnya jatuh pada sistem; pengguna menjadi lapis pertahanan pertama.

Kepercayaan publik adalah mata uang yang paling sulit dibangun. Sekali terjadi kebocoran data besar atau penyalahgunaan skor kredit, reputasi ekosistem bisa runtuh. Karena itu, pedoman etika dalam peta jalan AI harus diterjemahkan menjadi praktik: transparansi keputusan otomatis, mekanisme banding, pembatasan penggunaan data sensitif, serta pengujian bias. Hal ini juga mempengaruhi lembaga keuangan tradisional yang bekerja sama dengan Fintech—mereka akan menuntut bukti kepatuhan, bukan sekadar klaim “AI kami aman”.

Untuk memperjelas prioritas, berikut daftar praktik yang bisa menjadi titik temu antara pelaku usaha, regulator, dan konsumen:

  • Audit model AI secara berkala untuk memastikan keputusan dapat dijelaskan dan tidak bias pada kelompok tertentu.
  • Proteksi transaksi berlapis: deteksi anomali, autentikasi kuat, dan pembatasan transaksi adaptif.
  • Respons insiden yang terukur: kanal pelaporan 24/7, pembekuan cepat, serta pemulihan yang transparan.
  • Edukasi pengguna di dalam aplikasi (in-app learning) agar literasi berjalan bersamaan dengan adopsi.
  • Kepatuhan data dengan klasifikasi data dan kebijakan penyimpanan yang jelas sesuai kebutuhan nasional.

Insight akhirnya sederhana namun tegas: teknologi bisa membuat transaksi lebih cepat, tetapi hanya kepercayaan yang membuat masyarakat mau memindahkan kebiasaan finansialnya ke kanal digital.

Ekosistem kebijakan dan kolaborasi: dari buku putih ekonomi digital hingga aturan sektoral AI

Peta jalan AI tidak berdiri sendiri; ia menempel pada rangka besar kebijakan ekonomi digital. Pemerintah sebelumnya telah merilis strategi nasional yang memetakan pilar-pilar pengembangan sektor digital dan memperluas agenda inklusi melalui kelembagaan yang mendorong akses layanan keuangan formal hingga wilayah yang selama ini kurang terlayani. Dalam kerangka itu, peta jalan AI bertindak sebagai “manual lintas sektor” yang menjabarkan prinsip adopsi AI: aman, bertanggung jawab, dan bisa diukur dampaknya. Hasilnya diharapkan tidak hanya berupa inovasi produk, tetapi juga konsistensi tata kelola antarinstansi.

Yang menarik, pendekatan kebijakan ini mengakui kenyataan bahwa setiap sektor punya risiko berbeda. AI untuk layanan keuangan menyangkut data sensitif dan keputusan kredit; AI di transportasi menyangkut keselamatan fisik; AI di pertahanan menyangkut keamanan negara. Karena itu, peta jalan nasional berperan sebagai standar minimum—misalnya prinsip etika, keamanan, dan kesiapan talenta—sementara aturan turunan diserahkan kepada kementerian/lembaga yang paling paham detail sektor. Pola ini membuat tata kelola lebih realistis: yang pusat mengatur “rel”, yang sektor mengatur “kereta”.

Dalam konteks Fintech, kolaborasi menjadi kata kunci. Produk pembayaran, pembiayaan, tokenisasi, atau kontrak pintar membutuhkan kerja bersama: regulator menetapkan batas, industri menguji, akademisi menilai dampak, masyarakat sipil menjaga perspektif hak konsumen. Proses penyusunan peta jalan yang melibatkan ratusan perwakilan dan masukan ratusan pemangku kepentingan mencerminkan model kebijakan partisipatif yang lebih matang. Apakah ini membuat proses lebih lama? Ya. Tetapi waktu tersebut menjadi investasi untuk mengurangi biaya sosial di kemudian hari, seperti sengketa massal akibat keputusan algoritmik yang tidak transparan.

Kolaborasi juga perlu “ruang uji”. Sandbox inovasi, pilot project di daerah, dan kemitraan dengan perbankan daerah dapat menjadi jalur pembuktian manfaat. Misalnya, sebuah kota menguji sistem pendanaan UMKM berbasis transaksi QR, lalu membandingkan rasio kredit macet dengan metode konvensional. Jika hasilnya baik, model bisa direplikasi; jika bermasalah, aturan bisa diperbaiki sebelum skala nasional. Di sini, peta jalan berfungsi sebagai pedoman evaluasi: indikator keberhasilan, ambang risiko, dan prosedur penghentian jika eksperimen membahayakan konsumen.

Dimensi lain yang sering luput adalah kesiapan talenta. Pemerintah menempatkan pengembangan sumber daya manusia digital, riset, inovasi, dan penyusunan use case sebagai fokus. Tanpa talenta lokal, ketergantungan pada vendor luar negeri meningkat dan kedaulatan digital melemah. Untuk Raka, talenta ini hadir dalam bentuk yang sederhana namun berdampak: konsultan lokal yang bisa mengintegrasikan POS dengan pembayaran, analis data yang mengajarkan pembukuan berbasis transaksi, dan pengembang yang membangun fitur keamanan sesuai konteks Indonesia. Ketika talenta tersedia, adopsi menjadi lebih murah dan relevan.

Untuk menggambarkan hubungan kebijakan dan implementasi, tabel berikut merangkum komponen yang sering menjadi pembeda antara “program” dan “ekosistem”:

Komponen
Peran dalam peta jalan AI & modernisasi keuangan digital
Contoh penerapan di Fintech
Payung regulasi
Memberi kepastian dan standar minimum etika/keamanan lintas sektor
Aturan transparansi keputusan kredit berbasis AI
Aturan sektoral
Menerjemahkan prinsip umum menjadi prosedur operasional sesuai risiko sektor
Standar deteksi fraud dan penanganan sengketa transaksi
Infrastruktur data
Menjaga kedaulatan data dan keandalan layanan publik serta pembayaran
Penyimpanan data transaksi strategis di data center domestik
Talenta & riset
Memastikan inovasi dapat dibangun, diuji, dan diaudit secara lokal
Model scoring alternatif untuk UMKM berbasis arus kas
Kolaborasi ekosistem
Menghubungkan regulator–industri–kampus–masyarakat agar inovasi bertanggung jawab
Sandbox untuk tokenisasi aset dengan pengawasan ketat

Insight penutupnya: kebijakan yang efektif bukan yang paling banyak melarang, melainkan yang paling jelas membagi tanggung jawab dan mempercepat kolaborasi tanpa mengorbankan keselamatan publik.

Perdebatan publik dan pemahaman teknis juga berkembang lewat diskusi terbuka, seminar, dan materi edukasi yang dapat diakses luas—terutama ketika isu AI dan keamanan menjadi perhatian harian pengguna.

Dari QRIS ke tokenisasi: jalur implementasi teknologi baru untuk inovasi keuangan digital

Jika ingin melihat bagaimana inovasi bekerja di Indonesia, cukup amati kasir-kasir kecil di luar pusat perbelanjaan. Pembayaran QR bukan lagi “fitur”, melainkan kebiasaan. Skala adopsi yang besar—dengan dominasi pengguna dari kalangan UMKM—menunjukkan bahwa keuangan digital tumbuh dari kebutuhan nyata: transaksi lebih cepat, pencatatan lebih rapi, dan biaya pengelolaan uang tunai lebih rendah. Dari perspektif kebijakan, fakta ini penting: pemerintah tidak sedang memaksa perubahan, melainkan merapikan jalur agar perubahan yang sudah berjalan menjadi aman dan produktif.

Dalam kehidupan Raka, QR mengubah cara ia mengelola kedai. Ia tidak lagi menebak omzet harian; aplikasi memberi ringkasan transaksi, jam ramai, hingga produk yang paling sering dibeli. Dari data sederhana itu, ia bisa merencanakan stok dan promosi. Ketika data transaksi menjadi rapi, pintu pembiayaan juga terbuka. Bank atau penyedia kredit berbasis Fintech dapat menilai kesehatan usaha tanpa harus menunggu laporan keuangan yang rumit. Namun sisi lain juga muncul: akun palsu pelanggan, bukti pembayaran palsu, atau skema penipuan refund. Di sinilah AI dan keamanan bertemu langsung dengan kehidupan sehari-hari.

Ke depan, modernisasi tidak berhenti pada pembayaran. Pemerintah juga membahas peta jalan ekosistem semikonduktor dan teknologi baru untuk mendorong produk seperti tokenisasi aset dan smart contract. Mengapa semikonduktor ikut dibicarakan? Karena fondasi perangkat keras dan infrastruktur komputasi menentukan daya tahan sistem. Ketika transaksi digital meningkat, kebutuhan komputasi, penyimpanan, dan keamanan kriptografis ikut naik. Tanpa strategi teknologi dasar, inovasi aplikasi bisa berlari di atas fondasi yang rapuh.

Tokenisasi aset sering dibayangkan sebagai sesuatu yang jauh dari rakyat. Padahal, jika diatur hati-hati, ia bisa menjadi cara baru mengemas kepemilikan atau pembiayaan. Contoh yang mudah: pembiayaan rantai pasok. Faktur dari pemasok dapat “ditokenisasi” menjadi instrumen yang lebih mudah diperdagangkan dalam ekosistem tertutup dan patuh, sehingga pemasok kecil memperoleh likuiditas lebih cepat. Smart contract dapat membantu mengeksekusi pembayaran otomatis ketika barang diterima dan diverifikasi. Namun, semuanya hanya masuk akal bila ada aturan perlindungan konsumen, kejelasan status hukum aset digital, dan mekanisme penyelesaian sengketa.

Jalur implementasi yang realistis biasanya bertahap. Pertama, memperkuat keamanan dan literasi di layanan yang sudah masif (pembayaran). Kedua, memperluas penggunaan AI untuk efisiensi dan manajemen risiko (fraud, layanan, kredit). Ketiga, menguji produk baru dalam skala terbatas dengan pengawasan ketat (tokenisasi, smart contract). Pendekatan bertahap ini membantu menjaga kepercayaan publik. Masyarakat bersedia mencoba hal baru jika mereka merasa ada pegangan: aturan jelas, kanal komplain efektif, dan ada bukti bahwa penyedia layanan tidak “lepas tangan” ketika terjadi masalah.

Transformasi juga mengubah cara pemerintah melihat data. Dengan mendorong data center domestik dan kebijakan transfer data yang bertanggung jawab, negara menyiapkan landasan agar pertumbuhan ekonomi digital tidak mengorbankan kedaulatan. Bagi industri, ini berarti desain arsitektur harus lebih disiplin: klasifikasi data, enkripsi, audit akses, dan dokumentasi alur data lintas sistem. Untuk konsumen, dampaknya adalah standar perlindungan yang lebih konsisten, sehingga mereka tidak menjadi objek eksperimen tanpa sadar.

Pada akhirnya, modernisasi keuangan digital yang berhasil bukan yang paling banyak memamerkan fitur, melainkan yang membuat transaksi harian—dari warung hingga korporasi—berjalan lebih aman, adil, dan bisa dipertanggungjawabkan.

Berita terbaru
Berita terbaru

Ketika gejolak harga energi, normalisasi kebijakan moneter di negara maju,

Di atas peta, Indonesia terlihat seperti rangkaian titik yang terserak

Di Batam, denyut e-commerce terasa seperti mesin yang tak pernah

Di banyak daerah Indonesia, peta e-commerce tidak lagi berputar di

Di kota-kota dunia yang terasa jauh dari Jakarta—dari London, Melbourne,

En bref Di sepanjang 2025 hingga memasuki 2026, lanskap Perdagangan